Wednesday, March 15, 2017

Bab 1. Rebutan Burket


Waktu sore disebuah cafe yang penuh dengan suasana romantis, diiringi musik klasik yang menambah rasa hangat kasih pada sore itu. “bil, lo liat deh pasangan abg yang duduk dimeja nomor 12” ujar gue. “iyah, kenapa?” respon billy. “liat deh, apa yang mereka lakuin itu menurut mereka adalah sebuah hal yang romantis.
Tapi apakah romantis harus kaya gitu ya? Saling geli-gelian gitu? Puji sana puji sini?” ujar gue. 
“jon, setiap pasangan didunia ini bakalan memiliki type romantisnya sendiri-sendiri, entah meluapkannya dengan saling puji, atau geli-gelian, bahkan sampai mereka saling hinapun, itu bisa aja bagi mereka adalah sebuah hal yang romantis.”ujar Billy. 
“tapi, kenapa ya, semua orang bisa tergila-gila karena cinta? Bahkan mereka bisa sangat percaya sama adanya cinta?”tanya lagi gue. 
“berarti lo nggak percaya cinta dong? Kalok lo nggak percaya cinta lo nggak bakalan nikah?” seru Billy. 
“makasih mbak” ujar gue sambil ngambil pesenan dikasih. Lalu beranjak pergi dari cafe itu.
“bukan gitu. Jadi gini, kenapa sih mereka bisa dengan mudahnya tergila-gila karena cinta? Hingga mereka meyakini bahwa cinta itu bisa dapat mereka percaya? Bukannya setiap cinta bakalan berakhir dengan perpisahan? Dan perpisahan bisa bikin masing-masing dari mereka sakit hati. Berarti, selama ini, mereka menanam rasa sakit hati dalam menjalani sebuah hubungan, dan entah kapan mereka akan ketemu sama rasa sakit hati itu.” Ujar gue sambil berdiri didepan pintu cafe dengan memandangi abg yang bermesraan di meja cafe nomor 12. 
“ya mungkin sih, abg jaman sekarang lebih mikirnya sesaat. Yaaa nama juga abg, biarin ajalah mereka seneng-seneng. Eh, mobilo tadi parkir dimana?” terang Billy. 
“itu disana” tunjuk gue sambil melangkah kearah mobil.


Brek suara tutup mobil. 
“eh, ini udah jam 10, yok buruan ke akad Romy!” ajak Billy. 
“lo ribet banget udah kayak pergi ke sunatan ketua kelas.” Canda gue. “haha, inget gue Jon, nggak kerasa ya kayak baru kemaren aja kita SD. Haha” teringat Billy. 

Kita pun pergi ke akad nikah Romy.


Brek suara tutup mobil.
“gimana? Gue udah pas belom?”tanya gue. 
“yaelah jon, kata-kata itu bakalan lo tanyakan ketika lo menghadiri kondangan temen lo, tapi lo bawa pasangan, bukan sama gue, emang gue homo.” Ujar Billy. 
“udah yok, lu udah pantes kok” ajak Billy. 

Gue ngikut apa kata Billy, dan kami berduapun masuk kerumah Romy. “saya terima nikahnya Melati Kusuma Widya binti Bambang Tri Kusuma dengan maskawin seperangkat alat sholat dan .........” ijab Romy. 
“sah? Sah? Saaah.. Alhamdulillah” suara penghulu dan saksi-saksi ijab Romy. 
“tuh Jon, pernikahan adalah naungan terakhir kita dalam prinsip cinta didunia.” Ujar Billy. 

Gue Cuma bisa diem, ngeliatin Romy yang sedang merasa haru karena ijabnya berjalan sukses.


Ketika gue sama Billy ngambil makanan di prasmanan, dan pas gue makan. 
“pfff.. makanan apa nih? Udah kayak ngerasain ketek kuli bangunan yang nggak pernah mandi 3 hari tau nggak!” ujar gue sambil pengen muntah makan makanan yang disediain. 
“iya nih, kayak ngerasain ketek kuli bangunan yang nggak pernah mandi 3 hari tapi mereka pakek deodoran. Burket banget.” Ujar Billy yang sambil nahan muntah. 
“emang lo pernah ngerasain burket kuli bangunan yang nggak pernah mandi 3 hari?” tanya gue sambil ngerasa jijik. 
“ya nggak pernah lah” perjelas Billy sambil berusaha biar nggak muntah. tiba-tiba Romy datang sama istrinya. 
“hey yoo, Joni, Billy. Gimana gimana? Kenalin, ini istri gue. Sayang, mereka ini adalah temen-temen aku.” Ujar Romy. 
“Joni” kenalin gue. 
“Melati” kenalin Istrinya Romy. 
“Billy” kenalin Billy. 
“Melati” kenalin Intrinya Romy. 
“jadi, gimana makanannya? Enak kan?” tanya Romy. 
“enak kok enak. Ini udah mau nambah.” Ujar gue sambil bertingkah pengen nambah. 
“hehe, iya ini mau nambah”sambung Billy sambil bertingkah sama kayak gue. 
“yaudah-yaudah, mending kalian terusin deh makannya. Gue mau ada foto-foto dulu. haha” Ujar Romy sambil bisik-bisik ke gue dan Billy. 
“hehe oiya iya, mending lo foto-foto dulu deh, biar gue bisa habisin ini makanan. Hehe”ujar gue sambil menahan rasa muntah. 
“oke, gue tinggal dulu ya.” Romy pun pergi dengan istrinya. 
“gila, ini makanan paling aneh selama gue dateng ke nikahan orang.” Ujar gue. 
Romy mengangguk.


Brek suara tutup mobil. 
“thanks ya jon” terima kasih Billy. 
“oke” bales gue. Gue pun melanjutkan perjalanan ke rumah gue.





to be continue....


Share This

No comments:

Post a Comment

Contact Us

Dunia ini luas banget, jadi nggak akan ada seorangpun yang bisa menghalangi kita untuk kenal satu sama lain.



Designed By Alfan Tamamy